Ini ceritaku yang istimewa, mana ceritamu?

Jogja istimewa, jogja istimewa! Sebuah kalimat pendek yang sangat umum kubaca dan kudengar kemanapun aku pergi kesetiap sudut kota jogja. Ada sedikit perasaan bosan ketika melihat atau mendengarnya, sedikit dikit istimewa.. istimewa, padahal kalo dilihat dari kotanya sendiri tak jauh beda dari kota kota lain atau mungkin malah tidak lebih baik dari kota lain. Lalu dimana istimewanya? Atau mungkin ada yang terlewat olehku sehingga tak menyadari keistimewaannya. Lama aku merenung dan memikirkan untuk mencari jawabannya.

Ok, sejenak mari kita lupakan segala sesuatu tentang keistimewaan Jogjakarta karena aku mempunyai cerita yang mungkin lebih menarik dan istimewa.

Disuatu pagi yang dingin selepas mengantar istri berangkat kerja, disudut lapangan ada sebuah warung kecil yang biasa disebut angkringan yang menarik perhatianku dan pastinya menyediakan racikan tembakau dan cairan penghangat yang sepertinya cocok untuk mengisi pagi hari yang sedikit berkabut. Tanpa pikir panjang, kuarahkan motorku kesana, setelah memarkir motor dan duduk, sebentar kemudian cairan hitam yang masih mengepul tersaji dimeja yang tak begitu bersih itu dan untuk melengkapinya, kuambil beberapa gulungan tembakau dan mulai menghisapnya.

Setengah jam kemudian setelah aku menikmati suasana keserhanaan kurogoh kantongku dan mengeluarkan dompet, ketika kubuka ternyata lembaran yang kumiliki terlalu besar untuk membayarnya. Dengan senyum penuh keramahan dan tanpa kecurigaan, seorang ibu penjaga angkringan tersebut berkata, ‘wah mboten enten wangsulane mas, mbenjeng mawon nak mampir malih’ (wah ngga ada kembaliannya mas, besok saja kalo mampir lagi). Beberapa saat kemudian aku meninggalkan tempat itu.

Hari demi hari berlalu dan dua minggu kemudian ketika aku melakukan perjlanan pagi yang sama, aku berniat untuk mampir dan menyelesaikan transaksi yang belum usai, tapi sayang, pagi itu tak kulhat ibu penjaga angkringan itu dan yang ada hanya meja kosong dan beberapa kursi panjang yang diletakkan diatas meja. Akhirnya kuputuskan untuk mencari tempat lain yang serupa, hingga sampailah aku disebelah toko bangunan, disitu terdapat angkringan yang kondisnya tak lebih baik maupun bersih dari angkringan ibu disudut lapangan. Seperti biasa aku memesan cairan panas yang hitam dan beberapa guluangan tembakau sambil bercakap cakap penuh suasana akrab. Kali ini penjaga angkringan adalah seorang bapak paruh baya yang ternyta salah satu pekerja ditoko bangunan sebelahnya. Setelah berbincang kurang lebih dua puluh menit baak tersebut melijhat jam tangannya dan kemudian seperti terburu buru berkata,’mas mengke dusukane teng mriki mawon, kulo kerjo riyen… bose galak!’ (mas nanti diletakkan disini saja, saya kerja dulu… bosnya galak!). belum sempat aku menjawabnya, ia sudah berlalu ketoko bangunan dimana ia bekerja.

Dalam hati aku hanya bergumam, ini kekoynolan kekonyolan macam apa? Coba kalian lakukan hal seperti ini ditempat lain, aku garansi, niscaya anda akan miskin tujuh turunan kecuali anda keturunan kedelapan yang masih memiliki peluang untuk kaya J.

Ini secuil cerita istimewaku, dan tentunya masih banyak cerita istimewa lainnya yang mungkin suatu saat bisa kuceritakan lagi. Aku yakin kamu semua pernah mengalami hal yang serupa.

Dilain hal banyak diantara kawanku yang telah pulang kekampung halamannya karena masa kontraknya telah habis dijogja karena umumnya mereka adalah pelajar yang setelah selesai masa belajarnya kemudian pulang kampung mengatakan kerinduannya pada saat saat dijogja, rindu dengan suasananya, rindu dengan kesederhaannya, rindu dengan keramahannya… rindu dengan istimewanya dan mungkin inilah jawabannya bahwa Jogja istimewa.

 

Yang sedang menikmati cairan hangat bersama kepulan asap,

ujexx

Advertisements

4 thoughts on “Ini ceritaku yang istimewa, mana ceritamu?

  1. Jogja selalu istimewa, dengan caranya sendiri tentunya. Etapi aku jg pernah punya cerita unik dgn penjual angkringan. Anak-anak kampus biasa menyebutnya angkringan Felix. Suatu hari saat aku makan tanpa sadar aku meninggalkan dompetku disana. Dan yg terjadi adalah Pak Felix nyari-nyari aku ke sekre UKM untuk mengembalikan dompetku yg isinya tidak seberapa itu. Padahal aku baru bebereapa kali ke angkringannya tapi beliau sudah hafal namaku & wajahku serta aku aktif di salah satu UKM kampus. Ini cuma ada di Jogja!

    • mantab mbak… mungkin inilah salah satu ke Istimewaan jogjakarta…. 🙂
      pengalaman serupa juga pernah aku alami.. tapi yang ini bukan dompet tapi kamera….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s