teko dan moncongnya

hmm.. ibarat pisau mungkin blog ini sudah mulai berkarat karena sudah cukup lama tak pernah diasah lagi dan baru kali ini memiliki kesempatan untuk mengasah kembali, bukan karena sibuk atau hal hal lain yang menyebabkan tidak ada waktu untuk menulis.. tapi jika kukatakan ada sesuatu, memang ada karena sesuatu memang selalu ada.

mungkin sedikit tulisan ini masih ada sedikit kaitannya dengan “panah yang terlepas” yang beberapa waktu lalu sempat aku tulis di note facebook, tapi kali ini tidak akan membahas segala sesuatu yang terlepas apalagi menggunakan kata terlepas lagi dan  aku berjanji bahwa kata terlepas ini adalah kata terakhir yang akan ada dalam tulisan ini.

kali ini aku akan sedikit membahas masalah teko dan moncongnya… mungkin kata moncong agak kasar jika digunakan untuk manusia tapi untuk teko, mudah mudahan tidak dan seandainya terlalu kasar mohon dimaklumi.

bayangkan didepan anda saat ini ada sebuah teko yang berisi penuh…

sudah?

jika sudah, bayangkanlah anda menuangkan isi teko tersebut kedalam gelas…

apa yang anda lihat? air putih, teh, susu, kopi, sirup, bir, anggur?

silahkan anda membayangkan sesuai imaginasi anda, apa yang keluar dari moncong teko tersebut, jika anda membayangkan isi dalam teko adalah kopi maka gelas akan terisi kopi, jika anda membayangkan isi teko adalah air putih segar dan menyegarkan tentu yang akan dikeluarkan untuk mengisi gelas adalah air putih juga, kecuali anda seorang pesulap.. 🙂

lalu apa kaitannya teko, moncong teko, panah yang terlepas dengan kita sebagai manusia?

jawabnya pun singkat dan sangat sederhana

teko ibarat kita dan moncong teko adalah lisan kita, jika hati kita bersih sebersih air tadi maka ucapan yang keluar dari bibir kitapun akan bersih, benar dan menyejukkan bagi siapa saja yang mendengarkan tapi jika hati kita keruh sekeruh kopi lampung, penuh penyakit hati, iri dan dengki maka segala sesuatu yang kita ucapkan pun akan kotor, mencela, menghina, berkata kasar, menyakitkan dan lain lain

akan kita isi dengan apa teko yang kita miliki?
pilihan selalu ada 🙂

 

sedang membayangkan sebuah teko yang berisi,

ujexx lancelot

 

Advertisements

One thought on “teko dan moncongnya

  1. Selalu ada ruang untuk berbuat salah, tapi lebih banyak lagi ruang untuk meminta maaf… thks udah mampir di blog ane gan… salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s