“itu” yang terlupa

bangun pagi… hmm mungkin lebih tepatnya bangun siang, ditemani segelas kopi panas diatas tatakan buah tangan yang istimewa, badan masih terasa remuk dengan aktifitas satu minggu yang lumayan menyita fikiran dan tenaga, menyusuri jalanan jogja kesana kemari dan tentunya tak lupa melakukan style yang sangat keren, yaitu kesasar.. 🙂
Continue reading

Dinginkah kita..?

hari ini berjalan begitu panas, sepanas jalanan Jogja yang aku telusuri dengan Si mungil merahku hingga menjelang sore hari yang tiba tiba saja berubah menjadi dingin, sedingin tatapn, sikap dan hatiku sobat..

seolah terdampar disebuah pulau yang terpencil, seolah ada yang hilang dari jiwaku ketika aku menikmati dinginnya tetesan air hujan disebelah kantor hijau itu, hingga tak sabar kunanti, kuterjang hujan yang terus membasahi tubuh dan jiwaku yang kering oleh panasnya ketidakpastian dunia.
Continue reading

sekedar dongeng pengantar tidur

malam telah berubah menjadi pagi… lelah yang kurasakan, 24 jam lebih belum sempat memejamkan mata, tiba tiba saja teringat pada sebuah dongeng klasik dan tak tahan untuk menulisnya….

dahulu kala disebuah negeri yang damai hiduplah seorang putri, pada suatu hari, sang putri bertemu dengan pengembara yang tak pernah tahu apa sebenarnya yang ia cari, menjalani kehidupan seolah hanya mengalir saja, singkat cerita sang putri sering bertemu dan menghabiskan waktu dengan pengembara itu. hingga pada suatu malam yang remang-remang disebuah pinggiran sungai yang gemericik airnya mendamaikan jiwa, sang putri berucap, “wahai pengembara… kurasakan kau adalah sosok yang tak pandai mengungkapkan rasa…”.. pengembara yang lusuh itu hanya terdiam seribu bahasa, seolah tak mampu mengucapkan sepatah kata.

mungkin tak ada yang pernah tahu, dalam menjalani hidupnya yang kacau, pengembara itu berusaha memahami bahwa “raga, fikiran dan hati” merupakan sebuah kesatuan yang semestinya selaras sejalan. diamnya pengembara bukanlah tak mampu memahami dan menanggapi kalimat sang putri, ia sangat memahami makna yang tersirat yang disampaikan sang putri.

lalu kenapa ia terdiam?

ia terdiam karena tak mau kekagumannya hanya terbalas oleh raga sang putri sementara fikiran dan hati sang putri tetap terperangkap pada sosok pangeran yang jauh disana. mungkin suatu saat jika yang memiliki segala ijin, mengijinkan untuk menyentuh segenap hati dan fikiran sang putri, ia akan mengungkap rasa-nya….

lalu kapan itu terjadi sobat..?

yang pasti jawabannya adalah ketika aku berkenan melanjutkan tulisan ini, jika tidak…? ya takkan pernah terjawab…. lha wong yang nulis aku.. ya terserah aku kapan waktunya aku mau melanjutkan tulisan ini… hahaha

bersambung!!, aku mau tidur dulu…. ngantuk sangat neh mata…

salam ngantuk dan dongeng pengantar tidur,

ujexx